Reksadana sebagai Alternatif Investasi di Riau

Reksadana sebagai Alternatif Investasi di Riau

Oleh : Yusrialis, S.E, M.Si

Dosen Tetap FE-UIN Suska Riau

Alumni Sekolah Pascasarjana, Konsentrasi Keuangan dan Perbankan
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan dimasa datang. Setiap investasi terkait dengan hasil (return) dan risiko. Apabila ingin mendapatkan hasil yang tinggi tentunya menghadapi risiko yang tinggi pula, begitupun sebaliknya, nah semua itu terserah pada kita selaku investor. Oleh karena itu dalam berinvestasi sangat diperlukan keahlian investor dalam memilih saham-saham yang mendatangkan keuntungan yang tinggi dengan resiko tertentu. Proses keputusan investasi merupakan proses keputusan yang berkesinambungan (on going process). Kehadiran Reksadana sangat berarti untuk pengembangan pasar modal serta sebuah alternatif investasi di Indonesia, begitupun di Riau saat ini dengan hadirnya Reksadana Riau Fund.
Reksadana (mutual fund) sebagai cara yang paling sederhana untuk menyebar resiko (diversify) portofolio. Sejak dikeluarkannya undang-undang Nomor 8 pasal 1 ayat 27 Tahun 1995, Tentang Pasar Modal, Undang-undang ini menyebutkan Reksadana adalah suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portfolio efek oleh Manager Investasi yang telah mendapat ijin dari BAPEPAM.Pada dasarnya reksadana merupakan kumpulan uang banyak investor yang diinvestasikan pada berbagai instrument investasi. Uang tersebut diperoleh dengan cara menjual unit penyertaan reksadana. Setiap investor dapat membeli unit reksadana pada harga yang telah ditetapkan dan uang tersebut akan di pool bersama uang investor lainnya. Setiap investor memiliki hak secara proporsional pada reksadana berdasarkan jumlah unit penyertaan yang ia miliki. Uang yang dikumpulkan dari investor disimpan oleh pihak ketiga yang independen yaitu bank kustodian. Begitu juga dengan saham, obligasi dan instrumen lainnya yang dibeli oleh manajer investasi disimpan pada bank kustodian.
Agus Sugiarto berpendapat bahwa Reksadana tumbuh sangat pesat dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini dan telah menjelma menjadi salah satu raksasa kecil di sektor keuangan. Sebuah penelitian Klapper, Sulla, Vittas tahun 2004 menunjukkan bahwa pada umumnya, reksa dana lebih berkembang dengan baik pada negara-negara maju dengan pasar modal yang lebih stabil. Juga ditemukan reksadana saham mendominasi negara-negara Anglo-Amerika, dan dana obligasi banyak ditemukan di negara-negara Eropa dan negara dengan penghasilan menengah. Penelitian James dan Karceski tahun 2001 menemukan bahwa reksadana institusi lebih dibutuhkan atau secara relatif lebih baik dari pada reksadana ritail. Karakteristik Reksadana berdasarkan sifat operasinya, maka akan terbagi atas dua kelompok, yaitu Reksadana Terbuka (open end) Reksadana terbuka dapat berbentuk PT (perseroan terbatas) maupun KIK (kontrak investasi kolektif). Reksadana jenis ini dapat menjual (menerbitkan), unit penyertaan sebanyak-banyaknya, sepanjang ada pemodal yang mau membelinya, atau dapat dikatakan, reksadana ini selalu menerima pemodal setiap saat. Di lain pihak, reksadana ini juga diwajibkan untuk membeli kembali unit penyertaan-unit penyertaan yang telah dibeli pemodal, apabila mereka menginginkannya.
Dengan demikian, amat mudah bagi pemodal dari reksadana jenis ini bila ingin menarik kembali investasinya. Atas kewajibannya untuk membeli unit penyertaan yang dijual pemodal, maka unit penyertaan dari reksadana terbuka tidak dicatatkan di bursa efek. Harga penjualan dan pembelian unit penyertaan reksadana jenis ini ditentukan oleh kinerjanya atau NAV (Net Asset Value) per unit penyertaan yang dihitung setiap harinya oleh bank kustodian dan diumumkan kepada masyarakat. Naik turunnya NAV harian dihitung berdasarkan naik turunnya NAV pembukaan pada pagi hari dan NAV pada penutupan pada hari yang sama. NAV itu sendiri diperoleh dengan menghitung seluruh total nilai investasi reksadana sejenis, dikurangi dengan biaya-biaya pengeloaan reksadana dan kemudian dibagi dengan total unit penyertaan yang dikeluarkan oleh perusahaan reksadana.
Reksadana Tertutup (close end) Reksadana ini dikatakan tertutup (dalam hal ini reksadana berbentuk PT) dalam hal jumlah unit penyertaan yang bisa diterbitkan dan penerimaan masuknya pemodal baru. Reksadana ini hanya dapat menjual unit penyertaan kepada pemodal sebanyak unit penyertaan yang telah ditetapkan pada anggaran dasar perusahaan. Bila suatu saat perusahaan ini ingin menerbitkan unit penyertaan lebih dari yang telah ditetapkan, ia harus mengubah anggaran dasarnya terlebih dahulu. Reksadana jenis ini juga berarti tertutup kemungkinan bagi pemodal untuk menjual unit penyertaan yang telah dibelinya kepada reksadana yang bersangkutan.
Oleh karena itu, reksadana tertutup umumnya dicatatkan di bursa efek, agar para pemodal dapat memperjual belikan unit penyertaannya tersebut di bursa. NAV per unit penyertaan dari reksadana tertutup tidak dihitung dan diumumkan setiap hari layaknya reksadana terbuka yang telah dijelaskan di atas, melainkan satu kali dalam satu minggu. Karena unit penyertaannya diperdagangkan di bursa, maka harganya pun tidak tergantung dari NAV-nya melainkan harga yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran di pasar. Ada berbagai jenis reksadana. Akan tetapi secara umum reksadana bisa diklasifkasikan sebagai berikut Reksadana Pasar Uang (Money Market Fund) reksadana ini berinvestasi pada pasar uang seperti Deposito, SBI dan obligasi jangka pendek. Biasanya tingkat pengembalian reksadana pasar uang lebih tinggi dari jasa giro tapi lebih rendah dari Deposito, akan tetapi bisa dicairkan setiap saat. Reksadana Pendapatan Tetap ( Fixed Income Fund) Investasi utama reksadana ini ada pada obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan dan pemerintah. Seperti halnya reksadana pasar uang, jenis ini selalu memperoleh pendapatan dari pembayaran kupon (bunga), dan memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari suku bunga. Akan tetapi nilai reksadana ini seperti halnya obligasi bisa berfluktuasi sejalan dengan perubahan bunga. Jika bunga naik harga obligasi akan turun dan sebaliknya. Reksadana Saham (Equity Fund) Jenis ini menginvestasikan danannya pada saham yang terdaftar di bursa saham. Walaupun dalam jangka pendek reksadana saham bisa berfluktuasi secara signifikan, akan tetapi dalam jangka 3-5 tahun tingkat pengembaliannya diharapkan bisa mengalahkan reksadana lainnya. Reksadana Campuran (Balanced Fund) Reksadana ini mencampurkan saham dan obligasi, komposisi saham biasa berkisar antara 50-65%, sisanya pada obligasi. Reksadana ini cocok bagi investor tidak menginginkan resiko terlalu besar dari modalnya, tetapi bersedia mengambil sedikit resiko untuk tambahan pendapatan ekstra. Fenomena rekasadana adalah sebuah fenomena yang menarik di bahas.
Reksadana di Indonesia tergolong baru keberadaannya, namun dalam waktu singkat, reksadana mampu menyedot perhatian masyarakat yang melek investasi pada portofolio. Tahun 2004 jumlah dana yang masuk ke reksadana melonjak tajam dari hanya Rp. 8 triliun pada 2001 menjadi Rp100 triliun pada awal tahun ini. Pertumbuhan yang amat pesat itu, memang didorong oleh kemerosotan bunga deposito di bank menyusul langkah Bank Indonesia memangkas suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari 17% pada 2001 menjadi sekitar 6% tahun lalu seperti dilansir Bisnis Indonesia, 25 November 2005. Berbeda dengan tahun 2004, tahun 2005 adalah tahun yang buruk bagi kinerja reksadana khususnya rekdasana pendapatan tetap. Mulai dari awal tahun, redemption (penarikan dana) reksadana menjadi fenomena sendiri yang sangat mengkhawatirkan banyak pihak.
Puncaknya, pada sekitar September dan Oktober 2005, redemption besar-besaran ini telah mengakibatkan NAB (Nilai Aktiva Bersih) reksadana turun tajam dari Rp 104,037 triliun di akhir tahun 2004 menjadi Rp. 29,17 triliun pada Desember tahun 2005, atau menurun sebesar 71,96 % dari tahun sebelumnya. Namun pada tahun 2006 kembali pulih dan stabil. Kehadiran Reksadana Riau Fund di Riau diharapkan mampu memicu pengembangan investasi di Riau. Selain letaknya yang strategis, Riau sangat prospek untuk berinvestasi seiring gencarnya pemerintah propinsi mengembangkan investasi di negeri ini demi mengejar visi Riau 2020.
Namun perlu dicatat oleh masyarakat yang ingin menjadi investor bahwa reksadana menggunakan jasa manajer investasi yang profesional dan memerlukan analisa ekonomi baik mikro maupun makro untuk menerapkan diversifikasi risiko. Calon investor terlebih dahulu mempelajari jenis reksadana apa yang dipilih dan memberikan keuntungan dengan melihat prestasi manajer investasinya, kemudian mencari informasi mengenai kemudahan bagi investor untuk menjual kembali unit penyertaannya dan biaya transaksi yang dibebankan dengan membaca cermat prospektus reksadana tersebut. Semua keputusan investasi diambil oleh manajer investasi yang professional dan ahli pada bidangnya dengan mengacu pada aturan dan kebijakan investasi yang telah ditetapkan pada prospektus. Aktivitas manajer investasi juga dipantau oleh BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal) secara berkala. Manajer investasi akan mendapat surat teguran dari BAPEPAM apabila melakukan tindakan yang menyimpang dari yang telah ditetapkan di prospektus. Nah, tunggu apalagi, sebab kesempatan hanya datang sekali. Oleh karena itu untuk menunjang ekonomi masyarakat dengan memilih alternatif investasi di pasar modal, perlu sekali peran serta semua pihak termasuk mahasiswa sebagai ujung tombak sosialisasi, mengajarkan dan menumbuh kembangkannya. Kita berharap Pojok BEJ disedikan Kampus–kampus di Riau seperti pada Universitas yang berada di pulau Jawa, agar masyarakat paham tentang pasar modal, begitupun informasi investasi di Reksadana. Alhamdulillah PIPM (pusat Informasi pasar modal) telah hadir di pekanbaru untuk melayani masyarakat tentang informasi pasar modal. Jadi, tidak ada kata ragu lagi untuk berinvestasi.

DAFTAR PUTAKA

Bapepam, Laporan tahunan, 2005, www. Bapepam.go.idJames,
Christopher and Jason karceski, 2001, “Capture Money ? Differences in the performance Characteristics Of Retail and Institusional Mutual Funds”, University of Florida,.hal 1- 42.
Harian Bisnis Indonesia, 2005, berbagai edisi.
Klapper, Leora, Victor Sulla, and Dimitri Vittas, 2004, ”Development of Mutual Funds Around the World ”, Emerging Markets Review 5, Washington USA, hal 1- 38.
Republik Indonesia, 1995, Undang-undang Nomor 8 pasal 1 ayat 27, Tentang Pasar Modal.
Sugiarto, Agus, 2003, “Stabilitas Reksadana, Deposito dan Pembiayaan Jangka Panjang” Artikel KOMPAS 14 Agustus, hal 1-7.
Tandelilin, Eduardus, 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama, BPFE-Yogyakarta.
Yusrialis, 2006, “ Pengujian Konsistensi Sharpe, Treynor dan Jensen measure untuk Evaluasi kinerja Reksadana saham dibandingkan investasi portofolio individu di Bursa Efek Jakarta ”, Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Iklan

4 responses to “Reksadana sebagai Alternatif Investasi di Riau

  1. Terimakasih pak atas informasinya, tapi masih ada ngak info tambahan yg sesederhana mungkin biar kita-kita pemula ni belajar paham. saya tertarik dgn saham-investasi tapi masih buta pak ttg seluk beluknya…semoga sukses bwt bpak.

  2. Assalamu’alaykum….
    salam sukses,
    Article yang menarik buat yang ingin mengenal lebih jauh tentang Reksadana sebagai salah satu instrumen investasi. Kalau boleh tahu pak, apakah sama Reksadana dengan Danareksa?
    Trims.

  3. Assalamu’alaykum….
    Article perbankan syariah juga dientri dunk Pak…Trims.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s